TENTANG PGI
Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia berdiri 25 Mei 1950. Saat itu, gereja-gereja di Indonesia mempunyai visi baru tentang persekutuan umat Kristen, yaitu gereja yang esa. Visi yang sama juga sedang berkembang di dunia international. Kehadiran PGI dibutuhkan terutama sebagai tempat bermusyawarah berusaha bersama menampilkan keesaan gereja bagi anggotanya yang sekarang berjumlah 88 sinode.
PGI hadir sebagai suatu gerak dan bukan sekedar ada saja. Persekutuan ini penuh dengan aksi dan
dinamika, karyanya diarahkan pada penyelamatan dunia dengan manusia yang mendiaminya. Landasannya
ialah keadilan, perdamaian dan keutuhan ciptaan.
PGI memakai lambang yang sama dengan Gereja-Gereja se-Dunia (DGD), menandai keesaan dalam usaha, kerja
dan doa. Lambang ini adalah salah satu lambang tertua dari gereja: sebuah Kapal yang tengah berlayar di seluruh perairan dunia dengan muatan tertentu yaitu Iman, Persekutuan dan Pengharapan. Di tengah-tengah kapal OIKOUMENE itu tertanam sebuah Salib. kapal ini mengingatkan kita akan kapal yang dipergunakan
Tuhan Yesus dan murid-murid hampir 2 ribu tahun silam.
Apa itu Oikoumene?
Kata oikoumenen berasal dari bahasa Yunani: oikos “rumah”, menos “tinggal”. Dalam kamus Yunani yang
disusun oleh Barclay M. Nelwan Jr., “dunia” antara lain diterjemahkan sebagai kerajaan Romawi, didiami
manusia. Pernah juga diartikan “dunia yang beradab”. Pengertian Kristen dalam hal ini berarti dunia yang termasuk Kerajaan Kristus. Dan pekerjaan yang bersifat oikoumenis berarti pekerjaan yang meliputi keseluruhan dunia Kristen. Bagian yang terpenting yang ditampilkan dalam pekerjaan oikoumenis ialah
persatuan dan persekutuannya, sekalipun ada perbedaan antara gereja-gereja Kristen.
Oikoumene, berhak menyebut dirinya oikoumene sejauh keberadaannya berfungsi memberitakan Injil dan
bersaksi di dalam dunia.
Tulisan diambil dari TATA IBADAH dalam rangka HUT PGI ke-59 (25 Mei 1950 – 25 Mei 2009)