BERHASIL ATAU BERBUAH
E. Martasudjita, dalam bukunya Spiritualitas Pelayanan Kristiani, menyatakan bahwa cita-cita hidup untuk meraih kesuksesan, prestasi, jabatan tinggi, kehormatan, dan kekuasaan adalah gambaran hidup yang berhasil. Di titik ini, efisiensi dan efektivitas menjadi tolok ukur. Yang akhirnya bermuara kepada kesombongan. Sedangkan hidup yang berbuah tampak pada kerendahan hati, kerapuhan, kelemahan, dan keringkihan. Sebab menghasilkan buah hanya mungkin apabila sang ranting melekat pada sang pokok.
Lebih lanjut, Rama Martasudjita menjelaskan bahwa tanda yang paling terasa dengan orang yang berbuah ialah bahwa kita merasa aman, tenang dan damai saat dekat dengannya. Sebaliknya, bila kita merasa kecil hati, tidak enak, atau malah jengkel ketika berada dekat seseorang, kemungkinan besar kita hanya menghadapi orang yang berhasil tetapi tidak berbuah.
Gereja juga diutus untuk menghasilkan buah dan bukan keberhasilan. Gereja dipanggil menjadi tempat dimana orang merasa aman, tenang, damai, diperhatikan, dan bertumbuh. Dengan kata lain, gereja harus menjadi sahabat siapapun tanpa pandang bulu sebagaiman Sang Guru dari Nazaret.
Menghasilkan buah merupakan perintah Tuhan. Dalam suratnya, Yohanes menulis:”Sebab, mengasihi Allah
berarti taat kepada perintah-perintah-Nya. Dan perintah-perintah-Nya tidaklah berat untuk kita, sebab setiap anak Allah sanggup mengalahkan dunia yang jahat ini.” (I Yoh. 5:3-4). Dan mengasihi Allah merupakan bukti kita adalah anak-anak-Nya.
Ref : Tulisan Yoel M. Indrasmoro di Warta Jemaat GKJ Jakarta
July 7, 2009 at 6:37 am
wah aku tunggu tulisan Anda sendiri nih …