BELAJAR MENJADI GEMBALA

“Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.” Tak sedikit orang yang merasa dihibur oleh
Mazmur Daud itu. Daud menggambarkan Allah sebagai Pribadi yang senantiasa siap mengisi
kekurangan domba-domba-Nya. Dimata Daud, Allah mengetahui kebutuhan dasar domba-domba-Nya.

Bukankah itu pula yang terjadi dalam Petrus dan Yohanes. Mereka mengerti benar kebutuhan dasar
dari si lumpuh yang berada di Gerbang indah itu. Mereka mencoba mengisi kekurangan yang ada
pada diri si lumpuh. Kerinduan mereka agar si lumpuh berjalan membuktikan bahwa mereka ingin
memenuhi kekurangan pada diri si lumpuh.

Tak hanya itu. Mereka bahkan mau menyabung nyawa. Itu terlihat, ketika mereka mempertanggungjawabkan
apa penyembuhan itu di hadapan Mahkamah Agama. Mereka tak canggung menjadi saksi tentang kematian
dan kebangkitan Yesus. Padahal belum lama berselang Petrus bahkan tak berani mengakui keberadaan
gurunya di halaman rumah imam besar.

Kemungkinan besar, mereka teringat kalimat yang pernah diucapkan Yesus kepada mereka;”Gembala yang
baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya.” (Yoh. 10:11-12). Gembala baik memang tidak hanya
memberikan makan bagi domba-dombanya, tetapi juga nyawa bagi para domba. Mereka bertanggung jawab
atas apa yang mereka perbuat.

Pada titik ini, mereka sedang belajar menjadi gembala sebagaimana Sang Guru!

Info : Tulisan YOEL M. INDRASMORO di Warta Gereja GKJ Jakarta

One Response to “BELAJAR MENJADI GEMBALA”

  1. PIRIUS Says:

    terimakasih renungannya, GBU

Leave a Reply