Persekutuan Sejati
“Kami telah melihat Tuhan,” Itulah pokok berita yang disampaikan para murid kepada Tomas. Dengan mata kepala sendiri, mereka telah bertemu dengan Yesus, Sang Guru, yang telah bangkit dari kematian. Sayangnya, Tomas tak ada bersama mereka.
Tak hanya itu, Tomas pun menolak semua keterangan kesepuluh murid itu. Meski mereka berupaya untuk meyakinkannya, Tomas tetap pada pendiriannya. Dengan tegas dia berkata,”Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya,”(Yoh. 20:25).
Mungkin pada murid sedih menyaksikan ketidakpercayaan Tomas. Namun, agaknya mereka sadar kalau mereka mengucilkan Tomas, atau menganggapnya sesat, bisa jadi malah meninggalkan persekutuan.
Untunglah para murid mampu menerima Tomas apapun pendapatnya. Untunglah para murid tetap mengasihi Tomas, meski berbeda paham. Pemahaman yang berbeda harus dinyatakan, tetapi tidak boleh menjadi alasan untuk bersikap membedakan.
Itulah persekutuan sejati. Jemaat mula-mula pun telah menerapkannya. Lukas mencatat: “Mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah,” (Kis. 4:33).
Bagaimana dengan gereja masa kini?
Sumber Info : Diambil dari tulisan YOEL M. INDRASMORO di Warta Gereja GKJ Jakarta