Oleh – Oleh dari Kopenhagen
Tanggal 22 Agustus 2008, rombongan tiba di Airport setelah menempuh perjalanan 16 jam dimulai dari Jakarta – Kualalumpur – Amsterdam – Copenhagen. Rombongan di jemput oleh perwakilan officer WCS ( World Choir Simposyum ). Setelah itu rombongan menuju ke Danhostel di Hans Christian Andersen Boulervard. Rombongan di sambut oleh WaKuBim Choir ( Papua ) yang sudah lebih berada disana dan tentunya oleh Ibu Aida Svenson. Oleh karena waktu check in jam 14.00, sedangkan rombongan telah tiba di Danhostel pada jam 11.00. Rombongan di wajibkan menunggu untuk check in, selama waktu menunggu ini rombongan menghabiskan waktu dengan jalan – jalan di sekitar HC Andersen Boulevard.
Setelah menghabiskan waktu yang begitu lama, rombongan akhirnya bisa check in pada pukul 16.00. Masing – masing kelompok kecil yang dibentuk dalam rombongan akhirnya memasuki kamar masing – masing. Rombongan akhirnya menghabiskan malam tersebut untuk beristirahat, dikarenakan perjalanan panjang banyak menguras tenaga kami dan juga pagi hari kamu sudah mulai untuk kegiatan.
Hari 2 ke dua di Copenhagen, tanggal 23 Agustus adalah waktu dimana kami harus memulai semuanya, sesuai dengan jadual yang telah dibuat oleh panitia. Pada hari ke 2 jam 10.00, rombongan pergi ke Tivoli Garden untuk Blocking dan Check Sound untuk penampilan di malam yang sama. Setelah semuanya kami melakukan hal – hal tersebut, rombongan balik ke Danhostel untuk beristiharat sebentar dan makan siang. Setelah makan siang rombongan berlatih untuk persiapan konser, make up dan menggunakan kostum yang akan dipakai untuk pertunjukan malam tersebut.
Jam 18.00 pada hari yang sama, rombongan berangkat ke Tivoli untuk memulai konser pada pukul 19.00. Tivoli Garden adalah sebuah taman hiburan yang sangat terkenal di Copenhagen, dan tempat tersebut adalah salah satu tempat yang dituju oleh wisatawan mancanegara. Bentuk Tivoli Garden menyerupai Disney World yang banyak menyediakan permainan – permainan ekstrem dan roller coaster. Di Tivoli Garden menyediakan sebuah panggung pertunjukan yang cukup besar, tempat dimana rombongan akan tampil.
Tivoli Garden buka sampai jam 23.00, dan walaupun terasa jam tersebut adalah malam hari bila dibandingkan dengan Jakarta tetapi karena di Denmark matahari bersinar lebih lama dibandingkan dengan saat terbenam, maka walaupun kami mendapatkan waktu untuk tampil jam 19.00, Matahari masih terang benderang sehingga pengunjung di Tivoli Garden masih memenuhi area dimana kami akan tampil.
Sebelum penampilan kami, telah tampil lebih dulu beberapa Paduan Suara peserta Symposium. Kami tampil setelah Paduan Suara dari Ghana yang cukup mendapat sambutan dari pengunjung. Sehingga membuat kami agak nervous, dan akhirnya setelah kami tampil dimana pengunjung semakin banyak. Dimana penonton bukan hanya peserta symposium, tapi pengunjung Tivoli Garden juga ikut menonton kami. Setelah kami menyelesaikan sessi kami, dimana semua pengunjung memberikan aplaus yang sangat hangat sehingga membuat kami sangat bangga. Dimana sambutan penonton tidak hanya ketika kami berada di panggung, tapi berlanjut saat kami ingin berjalan di area tesebut. Banyak penonton yang datang hanya untuk mengucapkan selamat kepada kami dan memuji kami.
Ada saat dimana kami sangat tersanjung, ketika ada seorang yang terlambat datang ke tempat pertunjukan tersebut dan menonton kami sehingga membuat dia sangat kecewa. Dan untuk menutupi kekecewaan tersebut orang ini akhirnya mendatangi kami dan meminta kami untuk menyanyi. Akhirnya kami menyanyikan satu lagi untuk orang ini, dan setelah kami menyelesaikan nyanyian kami orang ini pun memberikan 100 crowner kepada kami. Kami sungguh senang karena orang ini begitu appreciate kepada kami. Setelah semua acara selesai akhirnya kami kembali ke Danhostel untuk beristirahat.
Hari 3 di Copenhagen, kami melakukan aktivitas seperti biasa. Setelah sarapan pagi, kami pergi ke salah satu tempat yang dekat dengan Opera House. Tempat dimana Ibu Aida Svenson mengadakan satu workshop. Dimana dalam workshop tersebut kami mempekenalkan teknik vocal tradisi yang kami gunakan dalam beberapa lagu yang kami gunakan dan beberapa basic tarian kami. Para peserta Symposium yang hadir dalam workshop tersebut sangat antusias mengikuti setiap presentasi yang ditampilkan. Dan sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk menyaksikan pertunjukan kami di Opera House nanti.
Setelah workshop selesai, kami makan siang dan beristirahat sebentar dan melakukan latihan. Setelah itu kami pergi ke Glyptotek untuk tampil disana. Glyptotek adalah sebuah museum yang menyimpan patung – patung dari jaman Romawi. Museum tersebut sangat besar dan di dalam Museum tersebut ada sebuah Taman yang sangat indah yang di tengah Taman tersebut ada sebuah Pohon Palem yang telah berusia sekitar 80 tahun. Concert Hall Glyptotek memiliki akustik yang sangat bagus, dan ini membuat pemantulan suara yang sangat indah. Kami pentas diantara patung – patung Romawi yang telah berusia ratusan tahun, sehingga membuat kami terus menerus untuk tidak menyentuh patung tersebut dikarenakan akan membuat patung tersebut rusak.
Pengunjung Glyptotek yang datang pada malam tersebut, khusus datang untuk melihat pertunjukan kami. Sehingga membuat kursi yang disediakan menjadi tidak cukup, dan ini membuat banyak penonton berdiri. Lagu demi lagu kami bawakan bergantian dengan WaKuBim Choir di pentas tersebut. Ini membuat penonton selalu bertepuk panjang, sehingga membuat Ibu Aida terkadang meminta penonton untuk berhenti bertepuk tangan, karena kami harus melanjutkan lagu berikutnya. Pementasan malam itu tentunya ditutup dengan tarian tradisional Aceh yang mendapat sambutan luar biasa dari penonton dan mendapat standing ovation dari penonton dan tepuk tangan yang panjang. Setelah kami menyelesaikan semua acara tersebut, akhirnya kami ke Danhostel untuk beristirahat untuk menyiapkan tenaga kami untuk pertunjukan berikutnya.
Hari ke 4 di Copenhagen, adalah hari dimana kami harus menyelesaikan puncak acara yang sangat kami tunggu – tunggu yaitu Opera House. Pada hari ini kami boleh bangun lebih siang tapi tidak boleh lebih dari jam 10.00. Jika ini kami lakukan, kami tidak akan mendapatkan sarapan pagi. Setelah sarapan kami bersiap untuk ke Opera House. Kami tiba di Opera House jam 13.00, dan kami mulai melakukan blocking dan check sound. Setelah kami melakukan semua hal tersebut, kami baru menyadari bahwa Opera House itu sangatlah besar. Di dalam gedung tersebut terdapat 5 Tribun, sehingga membuat kami berpikir bahwa penonton yang akan menonton kami akan sangat banyak.
Pementasan di Opera House dimulai jam 14.00, dimana pertunjukan pada hari itu dibuka oleh Janger. Ruangan berkapasitas penonton yang sangat banyak ternyata telah dipedati oleh penonton yang ingin menonton pertunjukan kami. Pertunjukan dilanjutkan oleh WaKuBim dan di tutup oleh Aceh. Setelah kami menyelesaikan semua acara tersebut, kami bisa merasakan melalui standing ovation betapa mereka sangat menikmati dan puas dengan acara tersebut dan tepukan penonton yang tidak berhenti – henti walaupun kami sudah berulang kali membungkukan kepala untuk menghormati penonton.
Kami sangat bangga dengan antusiasme penonton di Opera House tersebut, dimana apa yang kami tampilkan adalah sesuatu yang mungkin belum pernah mereka saksikan sebelumnya. Dan, sebelum kami tampil President Director dari WCS secara khusus datang untuk berterima kasih kepada kami. Karena kami telah datang untuk memenuhi undangannya dan memberikan semangat kepada kami supaya kami tampil maksimal.
Dari Opera House kami melanjutkan perjalanan ke Gereja St. Paul untuk mengadakan pertunjukkan disana. Gereja St. Paul adalah Gereja Ortodoks yang mempunyai akustik sangat bagus dan desain yang sangat unik dengan pilar – pilar yang besar. Kami tampil setelah Paduan Suara dari USA yang membawakan lagu – lagu klasik dan kontemporer dengan teknik yang begitu sempurna. Tetapi ternyata penampilan PSAI yang berbeda dari mereka mendapat sambutan yang luar biasa. President Director WCS secara mengejutkan datang ke Gereja St. Paul untuk kembali melihat pertunjukan kami.
Setelah kami menyelesaikan acara tersebut, kami memberikan kenang – kenangan, berupa kain ulos sebagai rasa bentuk penghormatan kami dan terima kasih kami, juga karena telah memberi kesempatan untuk hadir dalam acara WCS tersebut. Setelah acara tersebut kami pulang ke Danhostel untuk beristirahat.
Hari ke 5, setelah kami menyelesaikan semua pertunjukan kami. Kami tanpa ditemani oleh Ibu Aida Svenson yang masih harus mengikuti beberapa workshop mengeksplorasi Coppenhagen. Tapi hanya daerah sekitar Danhostel yang masih dalam jarak yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dikarenakan sarana transportasi umum cukup mahal buat kantong kami. Kami memilih berkunjung ke museum nasional yang dalam bahasa sananya disebut dengan ‘national musset’. Di museum itu kami melihat berbagai macam hal yang membuat kami sangat takjub. Ada fosil, ada mummi, ada berbagai macam peninggalan sejarah bangsa Viking yang ternyata adalah bangsa asli Denmark.
Dari museum kami pergi ke Christianburg Palace yang tidak terlalu jauh dari situ. Istana Christianburg adalah Istana ke empat yang dibangun di Denmark dan sudah beberapakali dihancurkan oleh perang. Sampai saat ini istana tersebut masih dipakai untuk pertemuan parlemen, dan beberapa bagiannya telah menjadi museum, dan merupakan pusat pelatihan kuda – kuda kerajaan yang digunakan oleh patroli berkuda. Tapi kami tidak sempat melihat – lihat istana tersebut karena terbatasnya waktu yang kami punya dan kamipun di undang makan malam oleh staf Kedutaan RI di Coppenhagen.
Diperjalanan pulang kami melewati Frederiksberggade yang merupakan area shopping di dekat City Hall. Kami menyempatkan diri untuk membeli beberapa souvenir. Malamnya kami mengunjungi KBRI untuk memenuhi undangan makan malam pihak KBRI.
Hari ke 6, pada hari ini kami check out dari Danhostel menuju ke Belanda. Kami berangkat naek pesawat selama 1 jam perjalanan untuk menujun Bandara Schippol di Amsterdam. Di Amsterdam kami menuju ke penginapan kami di Denhagg yang berjarak tempuh 1 jam perjalanan. Sampai di Denhagg pada jam 02.00 pagi, jadi kami memutuskan untuk langsung beristiharat.
Hari ke 7, Denhagg. Hari ini kami berjalan – jalan untuk melihat kota Denhagg, walaupun cuaca saat itu hujan rintik – rintik , tapi kami semua menikmati suasana tersebut. Malam itu kami diundang oleh Duta Besar Indonesia untuk Belanda, dan menghadiri jamuan makan malam yang diselenggarakn pihak KBRI.
Hari ke 8, Denhagg. Hari ini Denhagg lebih cerah dari hari sebelumnya walaupun cuaca saat itu mendung tapi tidak hujan yang membuat kami sangat nyaman untuk menikmati Denhagg. Kami mengunjungi pantai Scheveningen yang ternyata pantai tersebut sangat dingin karena ternyata pantai tersebut adalah samudra Atlantik yang berdekatan dengan Kutub Utara.
Pada malam hari kami tampil di sebuah Gereja sederhana di Uthrect yang di penuhi orang – orang Indonesia yang telah lama disana. Mereka sangat merindukan budaya Indonesia yang telah lama tidak mereka nikmati. Mereka sangat menghargai dan senang sekali dengan kita.
Hari ke 9, kami semua berangkat ke Amsterdam untuk rencana pulang ke Indonesia. Karena kita berangkat dari Bandara Schippol pada malam hari, sehingga kami menyempatkan diri untuk jalan – jalan di Amsterdam. Beberapa dari kami ada yang mengunjungi Madame Tussaud, dan yang lainnya melihat pertunjukkan jalanan di Royal Palace. Malam hari kami menuju Airport Schippol untuk check in dan berencana pulang ke Indonesia.
Dengan adanya kerusakan mesin pada pesawat KLM, maka penerbangan dibatalkan dan kami mendapatkan fasilitas penginapan dan calling card dan yang membuat kami senang ada kami mendapatkan voucher belanja 10 euro yang bisa kami gunakan di area Airport Schippol. Keesokan hari kami berangkat ke Jakarta dengan penerbangan jam 10 pagi untuk menuju Kuala Lumpur.
Dibuat berdasarkan pengalaman perjalanan Dwi Kartika Sari….

