Mindset Efisiensi Kerja Bukanlah Mitos

Kolom Solusi dari Seberang oleh Jennie S. Bev
Majalah Duit bulan Oktober 2007

(Artikel di bawah adalah versi asli yang belum diedit.)

Efisiensi kerja merupakan salah satu pendorong utama dalam kelancaran bisnis dan manajemen. Dan ini tidak pernah terlepas dari kultur organisasi dan kultur di dalam masyarakat tertentu. Sudah menjadi pengetahuan umum (common knowledge) bahwa para pekerja Indonesia yang bekerja di dalam maupun di luar tanah air seringkali “diidentifikasikan” dengan efisiensi kerja yang rendah atau paling tidak belumlah sejajar maupun bisa menandingi rekan-rekannya yang berasal dari negara lain. Bahkan, ini sudah menjadi stereotype yang sering saya alami sebagai pekerja asal Indonesia di Tanah Seberang.

Dalam salah satu anekdot yang seringkali kita dengar, para pekerja asal Indonesia mempunyai efisiensi paling hanyalah sepersekian dari mereka yang berasal dari negara-negara tetangga yang dikenal cukup efisien. Dibandingkan dengan beberapa negara Asia yang telah sangat dipercaya karena efisiensi kerja yang cukup atau bahkan sangat tinggi, malah Indonesia tidak diperhitungkan. Hal-hal demikian cukup mengganggu, terutama dalam persaingan dewasa ini.

Ingatlah bahwa dunia ini semakin tanpa batas dengan adanya perdagangan internasional dan teknologi yang sesungguhnya sangat memungkin siapa saja untuk bersaing dalam skala dunia tanpa kecuali. Untuk bisa bersaing, tentulah tidak dapat dipungkiri betapa pentingnya kemampuan mengelola diri sendiri, yang antara lain dapat dilihat dari tingkat efisiensi kerja dan disiplin yang terproyeksikan ke luar dengan sendirinya.

Solusinya memang tidak bisa instan, serta ini memerlukan niat alias spirit tinggi dalam mengubah mindset. Menurut American Heritage Dictionary, mindset adalah “a fixed mental attitude or disposition that predetermines a person’s responses to and interpretations of situations.” Terjemahannya kurang lebih begini: keyakinan teguh yang menjadi dasar dari respons-respons dan interpretasi yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang bermindset sukses mempunyai respons dan interpretasi yang berbeda dengan seseorang yang bermindset pecundang, misalnya.

Sudah jelas bahwa mindset para pekerja di negara-negara lain yang dikenal super efisiens, misalnya Jepang, Amerika Serikat, Singapura, Korea dan Cina sangatlah berbeda dengan mindset para pekerja di tanah air. Walaupun mungkin apa yang akan saya utarakan di bawah kedengarannya seperti generalisasi, banyak contoh yang bisa diambil apabila kita membandingkan dengan observasi sehari-hari betapa besar jurang perbedaan yang kasat mata.

Di Tanah Seberang, budaya lembur merupakan salah satu penyebab kesuksesan ekonomi dan bisnis dari beberapa negara yang disebut di atas. Tidak jarang ditemui betapa kantor-kantor dan pabrik-pabrik masih terang-benderang di tengah malam. Demikian pula dengan para murid sekolah yang masih sibuk dengan segala macam kegiatan mereka setelah lewat jam-jam sekolah. Mereka menganggap lembur adalah sesuatu yang wajar dan bahwa segala sesuatu yang baik hanyalah bisa diraih dengan ekstra kerja keras dan ekstra keyakinan teguh serta disiplin diri.

Mengapa mindset sukses sangatlah penting dalam meningkatkan efisiensi yang ujung-ujungnya bermuara kepada peningkatan produksi, revenue, dan gross domestic product (alias produktivitas nasional)? Ada beberapa alasan.

Pertama, mindset pada dasarnya adalah fondasi dari segala aktivitas dan perilaku. Jadi, dengan keyakinan mendasar bahwa diri kita adalah personifikasi dari sukses itu sendiri, maka segala bentuk perbedaan antara harapan dan kenyataan, terutama hal-hal yang menyebabkan timbulnya persepsi akan kegagalan dan kehampaan bisa dikikis dengan sendirinya.

Baik sebagai pebisnis maupun pekerja, alangkah baiknya apabila fondasi ini dipegang teguh, karena kebanyakan kegagalan bisnis maupun karir disebabkan oleh adanya kesulitan untuk melihat kenyataan bahwa sukses itu sudah ada di dalam diri, tinggal dikeluarkan saja. Bahwa dengan memandang diri maupun bisnis yang didirikan pada dasarnya adalah sukses, maka default state ini sangat meringankan kaki untuk melangkah.

Memang ini merupakan fondasi psikologis yang bisa diterapkan dalam kultur kerja institusi. Jelas makna “sukses” di sini belumlah bisa disamakan dengan profit numeris, namun merupakan awal dari kesiapan mental untuk bertempur.

Kedua, dengan berkaca kepada mindset ini, maka fondasi rencana-rencana kerja (planning) mempunyai dasar spirit manusiawi, sebagaimana diperkenalkan oleh Edward Deming yang dikenal dengan A System of Profound Knowledge. Sistem ini terdiri dari empat bagian: apresiasi sistem, pemahaman akan variasi, epistemologi (teori pengetahuan), dan pemahaman akan psikologi.

Dari keempat bagian tersebut, pemahaman akan psikologi merupakan dasar dari kesuksesan yang bersumber dari dalam (internal source) dan ini merupakan landasan yang paling jitu dalam segala bidang. Dimulai dengan prinsip “the right person for the right job at the right job” banyak perusahaan raksasa di Seberang yang bisa semakin meningkatkan mindset sukses mereka. Google adalah salah satu contohnya. Dengan prinsip berbisnis yang beretika tinggi, selalu berpikir out of the box, dan menggulirkan teknologi yang sudah ada di tangan dengan kreatifitas tinggi.

Untuk bisa menjalankan prinsip ini dan membawa mindset sukses ke tingkat yang lebih tinggi, sudah jelas Google sangatlah pemilih dalam proses perekrutan. Mereka tidak hanya menilai seorang kandidat dari segi intelektual dan interpersonal saja, namun terutama dari segi “masuk atau tidaknya” gaya kerja dan tingkat kreatifitas. Ini sangat riil dari sudut pandang mempertahankan mindset sukses di dalam sebuah insitusi.

Dan tampaknya strategi Google ini sudah terbukti ampuh dengan tingginya nilai saham mereka serta betapa banyaknya inovasi dalam bidang teknologi yang user-friendly dan menjadi pemimpin dalam pasar (market leader). Salah satu inovasi yang sedang dalam masa inkubasi adalah rencana mereka untuk menempatkan equipment di bulan untuk menangkap gambar dari luar angkasa.

Akhir kata, efisiensi kerja bisa ditingkatkan dengan mindset sukses. Ini bukan mitos, sudah terbukti dengan perusahaan-perusahaan meraksasa yang telah berhasil mengubah dunia. Tanpa mindset ini, mustahil bisa mempertahankan pencapaian, atau bahkan memulai sesuatu.

Ingat. Success is a mindset. It is not a journey, nor a destination. It is already within you. Sukses sudah ada di dalam diri kita sendiri, tinggal dibangunkan saja dari tidurnya.[]

Jennie S. Bev adalah periset bisnis dan penulis lebih dari 70 buku elektronik dan cetak di Indonesia, AS, dan Kanada. Ia bisa dijumpai di JennieforIndonesia.com.

Leave a Reply